
Kejadian yang sampai sekarang masih terus berputar di benakku. Ya, memori ku akan 4 tahun lalu.
- - - - - - - - - - -
Suara ketukan pintu itu mengusik tidurku, namun itu tidak mampu membangunkan ku dari mimpi mimpiku yang panjang akan harapanku yang belum tercapai. Tidak nyata tapi begitu kuat mengikatku. Tetapi semakin lama aku dalami semakin gusar ketukan yang ku dapat. Akhirnya aku terbangun dan dengan lunglai kulihat jarum jam yang menunjuk ke angka 01.30, dalam hati ku bertanya ada apa orang mengetuk pintuku pagi pagi buta?
Aku berjalan makin cepat seiring ketukan yang membelah kesunyian di malam itu. Tanpa berkata kata aku melihat mereka. Ya, orang tua ku. Wajah mereka begitu penuh kekhawatiran akan sesuatu yang aku tak tahu. Mereka mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berpacu lebih cepat, aku lari ke kamar salah seorang yang sudah lama kukenal. Saudara lelakiku. Bersama mereka aku bangunkan adikku dan segera aku tarik ke dalam kendaraan yang sangat kukenal.
Tanpa bertanya tanya akan kemana aku dan adikku dibawa, aku berdiam menghitung detik demi detik, menit demi menit. Sejujurnya aku sudah mulai mencerna apa yang terjadi dan kemana arah perjalanan ini. Sampai akhirnya dering telepon itu pun nyaring terdengar di tengah kesunyian perjalananku. Wanita yang yang duduk di bangku depan yang tak lain tak bukan adalah ibuku segera mengangkat telepon itu. ia menahan pilu dan air mata yang mulai menetes sambil mendengarkan telepon genggamnya. Setelah telepon itu ditutupnya, ia segera menyebut nama kakekku berkali kali. Terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana parasku saat itu yang aku yakini adalah satu. Aku tak mau ini terjadi.
Sesampainya di rumah itu, rumah yang penuh kenangan indah akan kakekku. Dengan lunglai aku berjalan masuk dan duduk di tepi balkon. Tak sanggup melihat ibukku ataupun nenekku. Yang aku tahu beberapa orang menepuk pundakku dan mengatakan aku harus bersabar akan apa yang telah terjadi. Ya, kakekku telah tiada. Orang yang sangat pendiam namun penuh kasih sayang telah tiada. Orang yang meyakinkanku bahwa aku bisa melakukan segala yang aku inginkan telah tiada, meninggalkanku di dunia yang tidak abadi ini.
Akhirnya aku berdiri dan memeluk nenekku,ibukku dan entah siapa lagi aku tak menyadari sepenuhnya.. Menunggu jasadnya datang dari rumah sakit itu. Aku tenggelam akan pikiran bahwa kakekku masih hidup. Terlebih saat aku melihatnya perlahan datang dibopong ayahku, pamanku serta beberapa orang yang tak ku kenal. Wajahnya begitu damai dan begitu familiar di benakku. sekilas aku melihatnya seperti sedang tertidur pulas tetapi saat kusentuh lengannya aku tahu ia bukan sedang tertidur. Tangan nya terasa dingin, juga asing. untuk terakhir kali ku kecup dahinya dan kututup kembali wajahnya yang terlihat seperti tersenyum dengan kain bermotif rumit itu.kulihat orang orang disekitarku, wajah mereka menggambarkan perasaan sedih yang amat dalam dengan mulut bergerak membaca ayat ayat surat yasin yang mereka pegang sebelah tangan.
Aku tak tahan melihat ekspresi keluargaku. Namun aku sadar mereka juga tak tahan melihat ekspresi di wajahku. Aku beranjak dari tempatku dan berjalan kearah cermin. Kulihat mataku yang memerah dan terlihat gelap di sekitarnya. Beberapa helai rambut ku pun jatuh di depan wajahku. Aku akhirnya mencuci wajahku dengan air dan menyisir rambutku. Aku masuk kekamar berganti pakaian berlengan panjang. Aku juga mengambil helaian kerudung di belakan pintu kamar dan memakainya.
Aku terus membaca ayat demi ayat selama proses itu. Masih jelas tertulis dalam benakku bagaimana sanak famili, tetangga serta saudara saudara jauh berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Mereka ikut terhanyut dalam lingkaran kesedihan karena salah satu orang aku sayangi telah tiada. Tak lain tak bukan, kakekku.
Sampai tiba akhirnya kakekku akan dikuburkan. Dengan perasaan tak karuan aku mengikuti semua proses itu. Kulihat sekeliling tidak ada nenekku disana. Aku menarik nafas panjang, ternyata nenekku pingsan tidak tahan menahan perasaan ditinggalkan yang bergejolak dihatinya. Air mata ku menetes seiring khusyu nya prosesi itu. Doa doa dan ayat ayat yang dipanjatkan saat sedang menguburkanya terdengar buram dibenakku. Pikiranku pun terbagi. Dan semuanya gelap.
Aku membisikan & memanjatkan doa, meratapi semua kejadian hari itu dengan kesedihan hanya untuk satu harapan yang terus ku pikirkan. Semoga kakekku bahagia di alam sana dan berada di tempat yang baik di sisi nya serta semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. AMIN.
Note : gue nulis ini gara gara ga sengaja dengerin kenangan terindah –samsons :’(
No comments:
Post a Comment